Restorative Justice Ditolak, Kasus Guru Pendamping di SD Islam Sragen Masuk Babak Baru

SRAGEN, MATA JATENG – Upaya damai dalam kasus dugaan pencubitan siswa berkebutuhan khusus (ABK) di salah satu SD Islam di Sragen menemui jalan buntu. Mediasi yang difasilitasi Satreskrim Polres Sragen pada Senin (28/9/2026) kemarin berakhir tanpa kesepakatan.
Mediasi berlangsung selama 1,5 jam, mulai pukul 10.00 hingga 11.35 WIB di Mapolres Sragen. Pertemuan tersebut melibatkan lengkap semua pihak terkait, mulai dari orang tua siswa sebagai pengadu, guru pendamping berinisial ANA sebagai teradu yang didampingi kuasa hukum, perwakilan sekolah dan yayasan, hingga UPTD PPA Kabupaten Sragen.
Kasat Reskrim Polres Sragen, AKP Agus Catur Yudho Praseno membenarkan adanya mediasi tersebut. Pihaknya mengatakan mediasi digelar untuk membuka ruang penyelesaian melalui mekanisme _Restorative Justice_ atau keadilan restoratif.
“Mediasi sudah kami fasilitasi sesuai prosedur. Namun belum ada titik temu,” ujar AKP Agus Catur Yudho Praseno.
Menurutnya, dalam mediasi itu teradu bersama penasihat hukumnya telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada pihak orang tua korban. Namun, orang tua korban tetap pada pendirian untuk melanjutkan proses hukum.
Pertimbangan utama orang tua, anak korban merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) yang memiliki kerentanan lebih. Sosok shadow teacher yang seharusnya menjadi pelindung dan pendamping khusus, justru diduga melakukan tindakan yang membuat orang tua khawatir.
Peristiwa awal sendiri terjadi pada 27 Juni 2026 lalu. Saat itu siswa kelas 5 berinisial N mengalami emosi tidak terkendali di sekolah, dan guru ANA berupaya menenangkan hingga diduga terjadi pencubitan yang membuat siswa menangis.
AKP Agus menegaskan, pihaknya menghormati sepenuhnya keputusan orang tua korban dan tidak akan melakukan intervensi maupun intimidasi. Pasca mediasi gagal, Satreskrim Polres Sragen akan melakukan pendalaman melalui gelar perkara untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Kasus ini menjadi sorotan publik Sragen karena menyangkut dunia pendidikan inklusi yang membutuhkan kesabaran ekstra, pemahaman khusus, dan sinergi kuat antara guru pendamping, sekolah, dan orang tua. (Tim:Red)
#SragenViral #GuruPendamping #MataJateng #ViralSragen







