Proyek Jembatan Juwangi I Boyolali Rp1,79 M Disorot: Pasangan Batu Berongga, Besi Tak Diikat, Pekerja Tanpa APD Lengkap

BOYOLALI, MATA JATENG – Proyek Pemeliharaan Berkala Jembatan Juwangi I (Pilangrejo–Juwangi), Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, dengan nilai Rp1.792.603.000 menjadi sorotan. Sejumlah kondisi di lapangan yang terekam tim media pada Rabu (8/10/2026) sekitar pukul 14.18 – 14.23 WIB dinilai perlu evaluasi mutu dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Proyek milik Pemkab Boyolali melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Tahun Anggaran 2026 ini tercantum di papan proyek:
> Pekerjaan:* Pemeliharaan Berkala Jembatan Juwangi I (Pilangrejo–Juwangi)
> Lokasi: Kecamatan Juwangi
> Biaya: Rp1.792.603.000
Waktu Pelaksanaan: 105 Hari Kalender (4 September – 17 Desember 2026)
Pelaksana: CV. Pandu Putra Wijaya
Dari pemantauan langsung, ada 4 poin utama yang menjadi catatan.
1. Pasangan Batu Diduga Berongga dan Berlubang
Pada pekerjaan pasangan batu yang diduga bagian talud atau pondasi, terlihat susunan batu dengan celah dan rongga yang cukup jelas. Bahkan ada bagian yang membentuk lubang pada pasangan yang sudah terpasang.
Kondisi visual ini menimbulkan pertanyaan apakah pengisian adukan dan penguncian batu sudah sesuai spesifikasi teknis dan gambar kerja. Hal ini penting karena menyangkut kekuatan dan umur konstruksi jembatan.
2. Pembesian Terlihat Belum Terikat Kawat
Pada bagian pekerjaan yang diduga lantai kerja atau pelat, anyaman besi / wiremesh di sejumlah titik terlihat belum diikat menggunakan kawat bendrat. Beberapa bagian tampak bertumpuk dan belum terkunci.
Apakah ini hanya tahapan pekerjaan yang belum selesai atau metode kerja yang tidak sesuai, perlu penjelasan teknis dari pelaksana dan konsultan pengawas.
3. K3 Dipertanyakan, Pekerja di Atas Scaffolding Tanpa Pengaman Jelas
Yang paling mencolok adalah penerapan K3. Sejumlah pekerja terlihat tidak mengenakan APD lengkap seperti helm keselamatan, rompi, dan sepatu safety.
Yang lebih berisiko, ada aktivitas pekerja di atas scaffolding / steger pada ketinggian. Dari pantauan visual, tidak terlihat penggunaan body harness atau sabuk pengaman secara jelas. Padahal pekerjaan jembatan di ketinggian memiliki risiko jatuh yang sangat tinggi.
4. Saat Dipantau, Tak Terlihat Mandor dan Pengawas
Saat pemantauan berlangsung dan pekerja masih beraktivitas, tim media tidak menemukan keberadaan mandor, pengawas lapangan, maupun konsultan pengawas di lokasi.
Memang tidak bisa disimpulkan pengawasan tidak ada, bisa saja sedang bertugas di titik lain. Namun keberadaan pengawas di saat pekerjaan berlangsung adalah kunci untuk kontrol mutu dan K3.
Perlu Evaluasi dan Klarifikasi Resmi
Sejumlah temuan tersebut belum bisa disimpulkan sebagai pelanggaran. Namun, karena ini proyek negara bernilai hampir Rp1,8 miliar yang menyangkut keselamatan publik, maka perlu klarifikasi dan evaluasi teknis terbuka.
MATA JATENG mendorong:
DPUPR Boyolali dan Konsultan Pengawas* untuk melakukan pengecekan mutu terhadap pasangan batu dan pembesian yang menjadi sorotan.
CV. Pandu Putra Wijaya untuk menjelaskan metode pelaksanaan, quality control, dan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK).
Inspektorat dan Dinas Tenaga Kerja untuk ikut mengevaluasi aspek pengawasan dan K3 sesuai kewenangan.
Hingga berita ini ditayangkan, MATA JATENG belum mendapatkan keterangan resmi dari CV. Pandu Putra Wijaya maupun DPUPR Boyolali.
MATA JATENG membuka ruang hak jawab seluas-luasnya kepada pelaksana, DPUPR, konsultan pengawas, dan pihak terkait. Hak jawab akan kami muat secara berimbang pada edisi lanjutan sebagai bentuk komitmen kami.
(Tim:Red) MATA JATENG – Akurat • Tajam • Terpercaya.







